DINASTI-DINASTI ISLAM DI SPANYOL

DINASTI-DINASTI ISLAM DI SPANYOL
Penaklukan Spanyol merupakan perjuangan pertama dan terakhir yang paling sensasional bagi bangsa Arab. Mereka berhasil menaklukkan wilayah Eropa yang terluas dan memasukkannya dalam naungan kekuasaan Islam. (Philip K. Hitti)[1]


A.    Pendahuluan
Dunia Arab dan Islam mengenal semenanjung Iberia di Eropa dengan nama Andalusia. Secara geografis, Andalusia berada diantara kekuatan Kristen yang satu dengan yang lain. Wilayah ini jauh dari negeri asal para penakluknya, yakni Maghribi. Hal inilah yang menyebabkan Andalusia memiliki perjalanan sejarah yang unik, berbeda dengan wilayah Islam lainnya. Walaupun penduduk Andalusia berada di lingkungan Benua Eropa dan mengalami banyak cobaan, namun Andalusia telah berhasil melahirkan peradaban Islam.[2]
Wilayah itu  kini termasuk bagian dari Spanyol dan Portugal. Andalusia dikenal sejak dikuasai Yunani, lalu kekaisaran Romawi, kemudin kerajaan Visigoth, hingga jatuh ke tangan Islam. Penduduk Andalusia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri atas komunitas Arab, orang Andalusia muslim, suku Berber (umat Islam dari Afrika Utara), penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran, Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, berperan bagi terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmu, sastra, dan pembangunan fisik disana.[3]

B.     Masuknya Islam ke Spanyol
Datangnya Islam ke Andalusia bukan saja membawa cahaya tauhid, melainkan juga membebaskan rakyat negara tersebut dari penindasan dan kezaliman raja Roderick, pemimpin Spanyol saat itu. Ia adalah keturunan bangsa Gothik. Dia dan para pejabat yang memerintah pada saat itu hidup bergelimang kemewahan, sedangkan rakyatnya berada dalam kemiskinan dan kesengsaraan.[4] Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang paling berjasa, yaitu Musa bin Nusair, T}arif bin Abdul Malik, dan T}ariq bin Ziyad.[5]
Saat Andalusia dikuasai kerajaan Visigoth, raja Roderick memerintah dengan sewenang-wenang. Sikap raja Roderick itu membuat Julian, keluarga Roderick yang menjadi gubernur Ceuta, menaruh dendam kepadanya. Ada yang menjelaskan bahwa dendam Julian adalah karena raja Roderick telah memperkosa putri Julian yang cantik jelita, Florinda.[6] Karena itu, Julian lalu menjalin kerjasama dengan pasukan muslim[7] untuk melawan Roderick. Ketika itu, dinasti Umayyah dipegang oleh khalifah al-Walid bin Abdul Malik (al-Walid I), khalifah keenam.[8]
Pasukan kerajaan Visigoth berkekuatan jauh lebih besar (25.000 orang) dari pasukan T}ariq bin Ziyad (7.000 orang, ada juga yang menyebutkan 12.000 orang). Meskipun demikian, pasukan Visigoth akhirnya dapat dikalahkan oleh panglima Umayyah. T}ariq dan pasukannya berhasil menaklukkan Raja Roderick. Andalusia jatuh ke tangan Islam serta dikuasai selama 7,5 abad (711-1492).[9] Bukit tempat pertempuran tersebut kemudian diabadikan dengan nama “Jabal T}ariq” atau Jibraltar.[10]
Pada awal kekuasaan Islam di Andalusia, wilayah ini diperintah seorang amir yang diangkat khalifah Umayyah di Damaskus. Stabilitas politik belum mapan, karena ada konflik etnis dan golongan, juga perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara di Kairawan, ditambah lagi gangguan dari musuh-musuh Islam. Akibatnya, Islam di Andalusia belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan.[11] Berikut peta kekuasaan Islam di Andalusia:[12]











C.    Kerajaan Bani Umayyah di Spanyol
Ketika bani Umayyah di Damaskus tumbang oleh Abbasiyah, salah seorang keluarga Umayyah, Abdurrah}ma>n ad-Da>khil, mampu meloloskan diri dari kerajaan Bani Abbas. Ia berhasil menyeberang ke Spanyol dan memasuki Andalusia. Saat itu, keamiran Andalusia berada di tangan Yu>suf bin Abdurrah}ma>n al-Fihr, dari Bani Muzar. Berkat dukungan suku Yaman yang sedang bertikai dengan Yu>suf, Abdurrah}ma>n ad-Da>khil berhasil menguasai Andalusia. Ia kemudian juga berhasil mengatasi pemberontakan dan serangan dari musuh-musuhnya.[13]
Sejak Abdurrah}ma>n ad-Da>khil mengambil alih kekuasaan di Andalusia, perlahan tapi pasti, Bani Umayyah membangun sebuah kekhalifahan besar disana. Dinasti Umayyah berkuasa selama hampir tiga ratus tahun (756 – 1031)[14] meskipun baru pada pertengahan abad ke-10 M penguasa menggunakan gelar khalifah. Dinasti Umayyah terlibat dalam proses perubahan politik yang signifikan, yakni perubahan pola pemerintahan desentralisasi menjadi pemerintahan terpusat yang kuat.[15] Berikut para Amir dinasti Umayyah di Andalusia:[16]
1.      ‘Abd al-Rah}ma>n I (756 – 788)
2.      Hisha>m I (788 – 796)
3.      Al-H}akam I (796 – 822)
4.      ‘Abd al-Rah}ma>n II (822 – 852)
5.      Muh}ammad I (852 – 886)
6.      Al-Mundhir (886 – 888)
7.      ‘Abdulla>h (888 – 912)
8.      ‘Abd al-Rah}ma>n III (912 – 929, jadi khalifah 929 – 961)
Abdurrah}ma>n III, yang bergelar an-Nasir, menjadi khalifah Umayyah pertama dan terbesar di Andalusia (929).[17] Ia mengubah keamiran Andalusia menjadi kekhalifahan Umayyah. Sejak masanya, umat Islam di Andalusia mencapai puncak kejayaan, menyaingi kejayaan Abbasiyah di Baghdad. Namun sesudah Hisham II turun tahta, para penggantinya tak sanggup mempertahankan keadaan.[18] Berikut silsilah kekhalifahan Umayyah di Andalusia:[19]
1.      ‘Abd al-Rah}ma>n III (929 – 961)
2.      Al-H}akam II (961 – 976)
3.      Hisha>m II (976 – 1009, 1010 – 1013)
4.      Muh}ammad II (1009, 1010)
5.      Sulaima>n (1009 – 1010, 1013 – 1016)
6.      ‘Abd al-Rah}ma>n IV (1018)
7.      ‘Abd al-Rah}ma>n V (1023)
8.      Muh}ammad III (1023 – 1025)
9.      Hisha>m III (1027 – 1031)

D.    Dinasti – Dinasti Islam di Spanyol
  1. Mulu>k al-T}awa>‘if
Setelah kekuasaan bani Umayyah di Spanyol berakhir pada tahun 1031, Andalusia terpecah menjadi negara-negara kecil di bawah pemerintahan Mulu>k al-T}awa>‘if (Spanyol: reyes de taifas, raja-raja kelompok)[20], yang berpusat di kota-kota seperti Sevilla, Kordoba, dan Toledo.[21]
Dinasti-dinasti tersebut ada yang murni berasal dari suku bangsa Arab, seperti, Bani Abbad di Sevilla dan Bani Hud di Zaragoza. Dari suku Berber berkuasa kabilah Hawwarah, yakni Bani Zun-Nun di Toledo dan Bani Hammud di Cordoba dan Malaga; dari kabilah Sanhaja berkuasa Bani Ziri di Granada. Dari Mulu>k al-T}awa>‘if ini, ada pula yang berasal dari golongan Mawali, yakni golongan non-Arab yang menjadi tentara bayaran. Pada umumnya, mereka adalah muslim Spanyol yang dipercayakan oleh para sultan di Andalusia, misalnya pemimpin Bani Sumadih yang berasal dari pengikut Bani ‘Amir. Sejumlah buku sejarah menyatakan bahwa jumlah dinasti yang muncul setelah Dinasti Umayyah runtuh ada dua puluh,[22] ada pula yang mengatakan lebih dari tiga puluh.[23]
Ciri umum dari pemerintahan Mulu>k al-T}awa>‘if adalah dinasti yang kuat selalu menyerang tetangganya yang lemah. Beberapa t}a>’ifah bahkan melakukan pengkhianatan dengan meminta bantuan kepada orang Kristen untuk melawan tetangganya yang muslim. Di penghujung abad ke-11, terjadi banyak penyerangan terhadap wilayah kekuasaan muslim di Andalusia. Kelompok keagamaan pun bereaksi melawan kehidupan yang hedonisme dan tidak bertanggung jawab dari penguasa wilayah. Pada akhirnya, kekuasaan Mulu>k al-T}awa>‘if ini terpaksa menerima kedatangan golongan al-Murabitu>n dari Afrika Utara yang mengadakan pemurnian terhadap ajaran agama dan meluruskan moralitas yang berkembang di Andalusia.
Setelah masa Mulu>k al-T}awa>‘if berakhir, Andalusia berturut-turut jatuh ke tangan tiga dinasti Islam, yaitu Murabitu>n, Muwahhidu>n, dan Bani Ahma>r. Namun pada masa mereka, satu per satu wilayah Islam mulai jatuh ke pihak Kristen. Bahkan pada masa bani Ahma>r, seluruh Andalusia lepas dari kekuasaan Islam, kecuali Granada, yang akhirnya juga jatuh ke tangan Kristen. Pada masa ini umat Islam kembali mengalami pertikaian internal, sementara raja-raja Kristen mulai menyusun kekuatan kembali.[24]
Di penghujung abad ke-15, pasukan Kristen berhasil mengalahkan Bani Ahma>r, menguasai seluruh Andalusia kembali, dan segera melaksanakan gerakan kristenisasi disana. Setelah itu umat Islam di hadapkan pada dua pilihan, yaitu masuk Kristen atau hengkang dari Andalusia. Pada tahun 1609 bisa dikatakan tak ada lagi umat Islam di wilayah itu.[25]
  1. Dinasti al-Murabitu>n (Almoravids, 448 H/1056 M – 541 H/1147 M)
Dinasti Murabitu>n didirikan oleh propagandis pemurnian ajaran keagamaan yang dipimpin oleh Yahya bin Ibra>him al-Jaddal, Abdullah bin Yasin, dan Yahya bin Ibra>him. Kelompok Murabitu>n berasal dari kabilah Lemtuna, disebut juga Berber, di gurun pasir Maghribi (Maroko sekarang). Mereka dinamakan al-Murabit dengan bentuk jamak al-Murabitu>n (orang-orang yang tinggal di Ribat) karena mereka berguru kepada Abdullah bin Yasin, seorang pemimpin Ribat (tempat yang dibuat khusus untuk menuntut ilmu dan beribadah). Mereka dinamakan pula al-Mulassimun karena mereka selalu menutup wajah untuk melindungi diri dari terik panas matahari di gurun pasir Maghribi.[26]
Sejarah dinasti Murabitu>n di kawasan Maghribi dimulai dengan upaya memancarkan ideologi Islam yang berlandaskan pada penonjolan peran Ribat atau masjid. Dinasti Murabitu>n bangkit pada saat Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad melemah dan mengalami disintegrasi. Pada saat yang sama, Dinasti Fatimiyah di Mesir juga berada pada masa akhir pemerintahannya. Kesempatan melemahnya politik Islam di kawasan Timur Tengah ini dimanfaatkan oleh kaum Nasrani Eropa untuk menggencarkan Perang Salib guna merebut kota-kota suci di Palestina dan wilayah lainnya. Pada saat ini pula, kaum Nasrani Andalusia menyerang sultan-sultan at}-T}awaif sehingga hampir-hampir kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia ini runtuh dari tangan kaum muslim. Pada saat yang genting inilah Dinasti Murabitu>n berhasil menyelamatkan wilayah Andalusia dari kehancuran.[27]
Penguasa pertama dinasti Murabitu>n adalah Abu> Bakar bin Umar (448 H/1056 M). Namun, tidak lama kemudian kepemimpinan wilayah Maghribi diserahkan kepada Yu>suf bin Tashfin (453 H/1061 M – 500 H/1107 M). Pada masa pemerintahan Ibnu Tashfin (Amir al-Muslimin) inilah Murabitu>n mencapai kejayaan. Pada masa ini, telah terjadi peperangan yang hebat melawan orang Kristen Spanyol di bawah pimpinan Alfonso VI. Pertempuran yang berlangsung di Zalakka tersebut dimenangkan oleh pasukan Ibnu Tashfin. Peperangan ini merupakan salah satu kejadian yang sangat menentukan dalam sejarah karena dapat menjamin keberadaan dan kejayaan Islam di Spanyol selama empat abad kemudian. Pasukan Murabitu>n menjadi lebih menguasai medan pertempuran di Andalusia sehingga mereka dapat menumbangkan musuhnya satu per satu, dan akhirnya mendirikan dinasti yang kuat di Andalusia. Wilayah pertama yang dikuasai adalah Granada, kemudian Murcia, Sevilla, lalu Badajoz, Valencia, dan Saragossa[28]. Akhirnya, seluruh wilayah Andalusia jatuh ke tangan Murabitu>n, dan habislah kekuasaan Mulu>k al-T}awa>‘if disana, kecuali wilayah Toledo karena para penguasanya meminta perlindungan kepada orang Eropa. Pada 500 H/1107 M Yu>suf bin Tashfin wafat.[29]
Sekitar tiga tahun setelah wafatnya Yu>suf bin Tashfin, yakni pada masa pemerintahan ‘Ali> bin Yu>suf bin Tashfin (500 H/1107 M – 537 H/1143 M), terjadi perang saudara antara penduduk kota Cordoba dan tentara Murabitu>n. Selain itu, pada masa ‘Ali>, wilayah Andalusia diserang oleh kelompok yang kemudian dikenal sebagai golongan al-Muwahhidu>n di bawah pimpinan Abdul Mu’min bin ‘Ali>. Ketika ‘Ali> terbunuh, kekuasaan beralih kepada putranya yang bernama Tashfin bin ‘Ali> (537 H/1143 M – 540 H/1146 M). Adik Tashfin yang bernama Ibra>him bin Ali (1140 M/540 H) berkuasa di wilayah al-Marakisy (Morocco). Tashfin berhasil menyerang dan menguasai kota Tilmisan. Dua tahun kemudian, Tashfin wafat karena serangan pasukan Muwahhidu>n. Penguasa dinasti Murabitu>n selanjutnya adalah Isha>k bin Ali bin Yu>suf. Ia dikepung di al-Marakisy pada 540 H/1146 M. Akhirnya pasukan Muwahhidu>n berhasil menyerbu benteng Murabitu>n yang kemudian jatuh pada 541 H/1147 M.[30] Berikut para penguasa dinasti Murabitu>n di Spanyol:[31]
a.       Yu>suf bin Tashfi>n (1090 – 1106)
b.      ‘Ali>> bin Yu>suf bin Tashfi>n (1106 – 1143)
c.       Tashfi>n bin ‘Ali>> (1143 – 1146)
d.      Ibra>hi>m bin Tashfi>n bin ‘Ali>> (1146)
e.       Ish}a>q bin ‘Ali>> (1146 – 1147)
  1. Dinasti al-Muwahhidu>n (Almohad, 515 H/1121 M – 667 H/1269 M)
Dinasti al-Muwahhidu>n didirikan oleh Muh}ammad bin Tumart al-Mahdi (515 H/1121 M – 524 H/1130 M) dari Kabilah Masmudah, kabilah terbesar dan terkuat yang tersebar di sebagian wilayah Maghribi. Muh}ammad bin Tumart menyebut kelompoknya sebagai al-Muwahhidu>n yang artinya “orang yang memahami keesaan Tuhan dengan benar”. Dinasti Muwahhidu>n muncul dengan membawa semangat politik baru di wilayah Maghribi dan Andalusia, yang ditandai dengan tidak tunduknya dinasti ini kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad.[32]
Berawal dari propaganda pemikiran Ibnu Tumart yang bertentangan dengan pemikiran Murabitu>n, Ibnu Tumart diusir keluar dari kota al-Marakisy oleh penguasa. Usaha-usaha Ibnu Tumart untuk mengembangkan ajaran akidah di negeri asalnya tidak dapat diterima, bahkan ditentang oleh ulama-ulama bermadhhab Maliki. Ia melarikan diri dan kemudian menetap di Tinmul. Pengusiran tersebut telah mendorongnya untuk berbuat lebih tegas terhadap Dinasti Murabitu>n.[33]
Di kota Tinmul, ia mendirikan ribat dan melakukan penyebaran ajaran tauhid yang diyakininya. Tidak lama kemudian, ia menjadi terkenal dan bertambah besar pengaruhnya. Ia memperoleh kepercayaan dari para pengikutnya dan segera mengangkatnya sebagai pemimpin. Ia kemudian menyusun organisasi pemerintahannya menjadi (1) dewan sepuluh/ menteri, (2) dewan lima puluh/ senat, (3) dewan tujuh puluh/ dewan rakyat, (4) at}-T}alabah/ ulama, dan (5) al-Huffaz} (pelajar dan mahasiswa). Pada 524 H/1130 M Ibnu Tumart meninggal karena sakit parah.[34]
Kekuasaan dinasti Muwahhidu>n kemudian secara berturut-turut dipegang oleh Abdul Mu’min bin ‘Ali> (1130 – 1163), Abu> Ya’qub bin Yu>suf (1163 – 1184), Abu> Yu>suf Ya’qub al-Mans}ur (1184 – 1199), Muh}ammad an-Nas}ir (1199 – 1214), Abu> Ya’qub Yu>suf al-Muntas}ir, Abu> Muh}ammad Wah}id al-Makhlu, Abu> Abdullah Muh}ammad al-‘Adil, Abu> Ula Idris al-Ma’mun, Abu> Muh}ammad Abdul Wah}id ar-Rashid, Abu> H}asan Ali as-Sa’id, Abu> Hafs Umar al-Murtada, dan Abu> Ula Idris al-Wasiq.[35]
Sepeninggal penguasanya yang keempat, Muh}ammad an-Nasir, pemerintahan Muwahhidu>n selalu diguncang oleh kerusuhan dan huru-hara. Hingga kemudian pada masa pemerintahan Abu> Muh}ammad Abdul Wahid ar-Rashid, muncul kabilah Bani Marrin yang menentang ar-Rashid. Bani Marrin mampu bertahan dan terus melawan Muwahhidu>n hingga akhirnya pada 667 H/1269 M kekuasaan dinasti Muwahhidu>n di Maghribi berhasil diambil alih oleh Bani Marrin, sebuah sempalan dari suku Zanatah.[36]
  1. Dinasti Al-Ahma>r/ Nas}riyah (627 H/1230 M – 897 H/1492 M)
Setelah golongan Muwahhidu>n meninggalkan Spanyol, sebagian besar kota muslim jatuh dengan cepat ke tangan Kristen. Akan tetapi, salah seorang pemimpin muslim dari keturunan Arab yang bernama Sultan Muh}ammad ibn Yu>suf ibn Nas}r yang lebih dikenal dengan nama Al-Ahma>r (1232 – 1273). Ia menyandang gelar al-Ghalib (sang pemenang) dan memilih Granada sebagai pusat pemerintahannya.[37] Ia berhasil mengendalikan wilayah-wilayah pegunungan di Propinsi Granada. Di sana ia kemudian mendirikan sebuah benteng yang diberi nama Alhambra. Sultan-sultan bani Ahma>r (bani Nasr) terus melakukan upaya untuk merebut kembali wilayah-wilayah Islam, dan dapat mengimbangi ambisi orang Kristen di Andalusia. Keberadaan dinasti Ahma>r ini berhasil membawa Islam lebih lama bercokol di Spanyol (hanya berkuasa di daerah Granada[38]), yakni selama dua setengah abad.[39]
Lambat laun kekuatan Islam di Granada melemah. Para sultan terakhir Nas}riyah terlibat dalam sejumlah pertikaian internal yang membuat posisi mereka semakin rawan. Dari 21 orang sultan yang memerintah dari 1232 sampai 1492 M, enam di antaranya memerintah dua kali, dan satu sultan lain, Muh}ammad VIII atau al-Mutamassik, memerintah sebanyak tiga kali (1417 – 1427, 1429 – 1432, 1432 – 1444). Kehancuran akhir dipercepat oleh kecerobohan sultan ke-19, ‘Ali> abu> al-H}asan (1461 – 1482, 1483 – 1485), yang bukan hanya menolak membayar upeti yang sudah lazim, tetapi juga menyulut permusuhan dengan menyerang wilayah Castile.[40]
Kekuatan Islam di Granada melemah oleh karena beberapa faktor, yaitu: (1) dua kerajaan Kristen Spanyol berhasil menyatukan Ferdinand II dari Aragon dengan Isabella dari Castilla pada 1469, (2) penolakan orang Islam untuk membayar pajak yang ditetapkan oleh kerajaan Kristen, (3) terjadinya perebutan kekuasaan antar para pengganti Amir. Akhirnya, pada 2 Januari 897 H/1492 M Granada jatuh ke tangan orang Kristen. Sultan bani Ahma>r terakhir, Muh}ammad XI, kemudian melarikan diri ke Maroko.[41] Berikut silsilah raja-raja Nas}riyah terakhir:[42]
a.       Sa’d al-Musta’i>n (1445 – 1446, 1453 – 1461)
b.      ‘Ali> abu> al-H}asan (1461 – 1482, 1483 – 1485)
c.       Muh}ammad XII al-Zaghall (1485 – 1486)
d.      Muh}ammad XI Abu> ‘Abdulla>h (1482 – 1483, 1486 – 1492)

E.     Peradaban Islam di Spanyol
Selama 7 abad Islam berkuasa di Andalusia, umat Islam telah mencapai kejayaannya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Jasa umat Islam di sana dalam pengembangan intelektual tidak hanya berguna bagi umat Islam di Timur, tapi juga di seluruh dunia. Kordoba, contohnya, merupakan pusat intelektual dengan perguruan tinggi terkenal dalam bidang kedokteran, matematika, filsafat, kesusastraan, musik, dan penyalinan naskah-naskah Yunani dan Latin. Saat itu, Universitas Kordoba sangat tersohor dan menjadi kebanggaan umat Islam.[43]
Di bidang pertanian, Andalusia juga mengalami kemajuan. Rakyat Andalusia sudah mengenal sistem irigasi dan saluran air. Dengan pembangunan irigasi yang baik, mereka dapat membangun kebun tebu, kapas, padi, jeruk, anggur, dan sebagainya.[44]
Para penguasa Islam sangat memperhatikan aspek pembangunan fisik di Andalusia. Untuk memperlancar perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar dibangun. Namun, yang paling menonjol adalah pembangunan kota dan gedung-gedung megah, misalnya az-Zahra, Granada, dan Kordoba, pusat pemerintahan yang dilengkapi dengan taman, istana, masjid, perpustakaan, dan sebagainya. Kemegahan itu ditambah pula dengan gaya arsitektur yang sangat indah.[45]
Saat Abdurrah}ma>n III berkuasa, ia membangun sebuah kota megah yang bernama Granada. Di kota ini terdapat istana dan benteng Alhambra yang sangat terkenal di seluruh dunia. Seni arsitekturnya bernilai sangat tinggi. Di dalamnya terdapat sebuah taman, taman Singa (Haushus Siba’). Pada halaman taman  tersebut terdapat “Pancuran 12 singa”. Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan bani Ahma>r. Seluruh bangunan yang terdapat dalam kompleks Alhambra tidak dibangun sekaligus, melainkan secara bertahap selama labih dari 100 tahun. Konstruksi pertama dibangun oleh Sultan Muh}ammad bin Al-Ahma>r I, kemudian bangunan ini diperluas pada masa sultan-sultan berikutnya. Alhambra berada di dataran tinggi, di sebuah bukit kecil di kota Granada.[46]

F.     Runtuhnya Kekuasaan Islam di Spanyol
Andalusia di bawah kekuasaan Islam mengalami banyak kemajuan pesat. Namun kemajuan itu berangsur-angsur pudar seiring dengan munculnya dinasti-dinasti kecil yang mengakibatkan disintegrasi kekuatan Islam di wilayah itu. Pada saat dinasti-dinasti kecil itu saling berperang, pihak Kristen menyatukan diri untuk mengalahkan dan mengusir Islam. Satu per satu wilayah Islam jatuh kembali ke tangan Kristen. Granada mengambil alih posisi Kordoba sebagai pusat pemerintahan, dan menjadi tempat pertahanan terakhir umat Islam di Andalusia.[47]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terhentinya ekspansi Islam ke Andalusia, antara lain:[48]
  1. Posisi Andalusia yang tidak menguntungkan,
  2. Semakin lemahnya jiwa jihad dan berkurangnya minat untuk menyebarkan agama Islam,
  3. Kebiasaan para penguasa hidup berfoya-foya,
  4. Perselisihan dan perang saudara yang terjadi antar penguasa,
  5. Persatuan dan kebangkitan kembali kaum Nasrani untuk merebut dan mengembalikan wilayahnya dari tangan muslim (gerakan Reconquista),
  6. Adanya politik adu domba yang diterapkan oleh orang Kristen untuk memecah belah persatuan umat Islam, dan
  7. Sikap yang terlalu toleran dari umat Islam.

G.    Kesimpulan
Andalusia dikenal sejak dikuasai Yunani, lalu kekaisaran Romawi, kemudin kerajaan Visigoth, hingga jatuh ke tangan Islam. Penduduk Andalusia merupakan masyarakat majemuk. Semua komunitasnya berperan bagi terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang melahirkan kebangkitan ilmu, sastra, dan pembangunan fisik disana. Datangnya Islam ke Andalusia bukan saja membawa cahaya tauhid, melainkan juga membebaskan rakyat negara tersebut dari penindasan dan kezaliman raja Roderick, pemimpin Spanyol saat itu. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang paling berjasa, yaitu Musa bin Nusair, T}arif bin Abdul Malik, dan T}ariq bin Ziyad.
Sejak Abdurrah}ma>n ad-Da>khil mengambil alih kekuasaan di Andalusia, Bani Umayyah membangun sebuah kekhalifahan besar disana. Dinasti Umayyah berkuasa selama hampir tiga ratus tahun (756 – 1031). Setelah kekuasaan bani Umayyah di Spanyol berakhir, Andalusia terpecah menjadi negara-negara kecil di bawah pemerintahan Mulu>k al-T}awa>‘if yang berpusat di kota-kota seperti Sevilla, Kordoba, dan Toledo.
Setelah masa Mulu>k al-T}awa>‘if berakhir, Andalusia berturut-turut jatuh ke tangan tiga dinasti Islam, yaitu Murabitu>n, Muwahhidu>n, dan Bani Ahma>r. Namun pada masa mereka, satu per satu wilayah Islam mulai jatuh ke pihak Kristen yang melancarkan gerakan Reconquista. Umat Islam kembali mengalami pertikaian internal, sementara raja-raja Kristen mulai menyusun kekuatan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar